Contoh Makalah Pengertian Antropologi 2020

Diposting pada

PENGERTIAN ANTROPOLOGI

MAKALAH ANTROPOLOGI

Disusun Oleh:

NAMA : _________________

FAKULTAS______________________

UNIVERSITAS_________________________

2020

KATA PENGANTAR

               Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat-Nyalah saya akhirnya bisa menyelesaikan tugas individu perkuliahan Antropologi yang berjudul “Pengertian Antropologi ”ini dengan baik tepat pada waktunya.

            Tidak lupa saya menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pengampu kami, NAMA DOSEN______________ yang telah memberikan banyak bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam proses penyusunan makalah perkuliahan ini. Rasa terima kasih juga hendak kami ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan kontribusinya baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah perkuliahan ini bisa selesai pada waktu yang telah ditentukan.

            Meskipun saya sudah mengumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan makalah perkuliahan ini, namun saya menyadari bahwa di dalam tugas individu yang telah tersusun ini masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan. Sehingga saya mengharapkan  masukan, kritikan serta saran dari semua pihak agar makalah ini bisa menjadi lebih sempurna dan bermanfaat bagi kita semua, .terima kasih.

NAMA KOTA, TANGGAL-BULAN-TAHUN

                                                                        PENULIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………..1   

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………..2

BAB I           PENDAHULUAN

            1.1     Latar Belakang …………………………………………………………………………..3  

            1.2     Rumusan Masalah ………………………………………………………………………5

            1.3     Tujuan Makalah …………………………………………………………………………5

BAB II         LANDASAN TEORI

            2.1     Antropologi ……………………………………………………………………………….6

                      2.1.1    Pengertian Antropologi …………………………………………………….6

                      2.1.2    Antropologi Menurut Para Ahli……………………………….7

BAB III        PEMBAHASAN

            3.1     Ruang Lingkup Dan Perkembangan Antropologi………………….…..8  

                      3.1.1    Ruang Lingkup Antropologi………………………………..…..8

            3.2     Definisi Antropologi Menurut Para Ahli & Garis Besar nya………….9

            3.3     Sejarah Dan Perkembangan Antropologi………………………….….12

            3.4     Tujuan Belajar Dan Kegunaan Antropologi…………………….……..16  

                       3.4.1    Tujuan Akademik…………………………………………….16

                       3.4.2    Tujuan Praktis…………………………………………………17

            3.5      Istilah-Istilah Lain Antropologi……………………………………….17

            3.6      Hubungan Antropologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Sosial Lainnya…….18

BAB IV        PENUTUP

            4.1     Kesimpulan ……………………………………………………………………………….21

            4.2     Saran ………………………………………………………………………………………..22

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

            Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.

            Manusia sebagai salah satu makhluk di muka bumi merupakan makhluk yang paling unik. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup bermasyarakat yang tak bisa lepas dari kebudayaan dan adat istiadat. Manusia dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Setiap manusia yakin bahwa agama merupakan kepercayaan yang mempengaruhi kehidupannya dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Selain agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan sebagai sistem struktural yang berarti,, bahwa proses pemikiran menghasilkan sistem simbol yang dimiliki bersama dan tercipta secara kumulatif dari pikiran-pikiran.1 Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur kebudayaan yang ada. Bahasa, sistem keperrcayaan, sistem sosial, mata pencaharian, teknologi, ilmu pengetahuan, dan kesenian merupakan aspek-aspek yang berasal dari sistem ide dan gagasan suatu masyarakat yang diturunkan secara turun temurun antar generasi.

            Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.

            Manusia adalah makhluk sosial , yaitu manusia memerlukan orang lain.sejak manusia lahir ke dunia mereka sangat membutuhkan bantuan lainnya agar mereka dapat tetap hidup baik. Dalam berinteraksi di masyarakat , manusia dipengaruhi nilai, aturan , norma , budaya serta kondisi geografisnya terhadap perubahan perilakunya . pada hakikatnya pendidikan merupakan proses transformasi nilai dan kebudayaan dari generasi satu ke generasi berikutnya, karena itu proses pendidikan akan terkait erat dengan latar belakang budaya tempat proses pendidikan berlangsung.Dengan demikian fungsi pendidikan sangat penting dalam melestarikan budaya dan menjadikan manusia berperilaku sesuai dengan nilai, norma, dan budaya lokal, sehingga manusia masih memiliki wawasan budaya setempat tanpa harus melupakan budaya aslinya.

            Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia mulai dari fisik, tingkah laku,kebiasaan,bahasa, budaya serta susunan masyarakat , ternyata telah memberikan kita sebuah.pengetahuan tentang perkembangan zaman dan fenomena kehidupan budaya dan masyarakat dari waktu ke waktu sehingga tentunya kita tidak akan pernah lupa akan sebuah perjalanan manusia dari masa lampau hingga sekarang ini.

Terdapat lima masalah penelitian khusus antropologi yaitu :

Koentjoroningrat (2009) berpendapat bahwa di iniversitas-universitas Amerika Serikat, tempat antropologi telah berkembang secara ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas itu menyebabkan adanya paling sedikit lima masalah penelitian khusus yaitu:

  1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (evolusi ) secara biologi
  2. Masalah sejarah terjadinya beragam makluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya.
  3. Masalah sejarah asal, perkembangan, dan penyebaran beragam bahasa yang diucapkan manusiadi seluruh dunia.
  4. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya beragam kebudayaan manusia diseluruh dunia.
  5. Masalah mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku-suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang ingin diajukan penulis pada makalah ini yaitu :

A. Apa Pengertian  Antropologi ?

B. Bagaimana Sejarah dan Perkembangan Antropologi ?

C. Apa tujuan dan kegunaan Antropologi ?

D. Apa Istilah – istilah lain Antropologi ?

E. Apa Hubungan antara Antropologi dengan sosiologi dan ilmu – ilmu lainnya ?

1.3. Tujuan Makalah

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini yaitu :

A. Untuk mengenal Pengertian  Antropologi.

B. Untuk mengenal Sejarah dan Perkembangan Antropologi.

C. Untuk mengetahui tujuan dan kegunaan Antropologi.

D. Untuk mengetahui Istilah – istilah lain Antropologi.

E. Untuk mengetahui Hubungan antara Antropologi dengan sosiologi dan ilmu – ilmu lainnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Antropologi 

2.1.1    Pengertian Antropologi 

Atropologi Berasal dari bahasa Yunani, Antropos berarti manusia dan logos berarti ilmu atau studi tentang sesuatu. Para antropolog  mengemukakan antropologi sebagai studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang   manusia  dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian ataupun pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. (Haviland, 1999).

Kottak (Meinarno, Widianto, dan Halida, 2011) mendefinisikan antropologi sebagai studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan tingkah lakunya  serta untuk memperoleh pengetahuan lengkap tentang keberagaman manusia.

Koentjoroningrat (2009) mendefinisikan antropologi sebagai ilmu tentang manusia dan merupakan suatu istilah yang sangat tua. Pada masa lalu istilah antropologi digunakan dalam arti lain yaitu ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia. Bahkan disebut sebagai ilmu anatomi. Dalam perkembangan fase ketiga sejarah perkembangan antropologi, istilah antropologi dipakai terutama di Inggris dan Amerika dalam arti yang sama dengan etnologi pada awalnya. Di Amerika istilah antropologi dipakai dalam arti yang luas, meliputi bagian-bagian fisik maupun sosial dari imu tentang manusia. Di Eropa Barat dan Tengah, istilah antropologi dipakai dalam arti khusus yaitu ilmu tentang ras-ras manusia dipandang dari ciri-ciri fisiknya. (Koentjoroningrat, 2009).

Istilah cultural anthropology (antropologi budaya) akhir-akhir ini dipakai terutama di Amerika, tetapi kemudia juga di negara-negara lain sebagai istilah untuk menyebut bagian dari ilmu antropologi dalam arti luas yang tidak mempelajari manusia dari sudut fisiknya, jadi sebagai lawan dari physical anthropology (antropologi fisik). Jadi antropologi merupakan suatu disiplin ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang manusia. 

Menurut ihromi (2006) untuk memberi definisi tentang antropologi berdasarkan perhatiannya terhadap manusia, harus diakui memang kurang eksplisit, karena menurut definisi diatas, antropologi seolah-olah mencakup suatu daftar penuh dengan disiplin-disiplin lain seperti sosiologi, psikologi, ilmu politik dan ekonomi, sejarah, biologi, filsafat dan sastra.

2.1.2 Antropologi menurut para ahli 

Antropologi mempelajari Manusia sebagai mahluk biologis sekaligus makhluk sosial Antropologi, menurut William A. Havilland Antropologi adalah studi tentang umat Manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya Serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia David Hunter Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia .Koentjaraningrat Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka(warna), bentuk fisik (masyarakat) serta (kebudayaan) yang di hasilkan

            Dari definisi-definisi tersebut dapat di susun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan(cara- cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda- beda. Dengan demikian, Antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dapat dilihat dari perkembangan pada masa saat ini, yang merupakan salah satu dari fenomena yang terjadi di tengah- tengah masyarakat sekarang ini.

David Hunter– Antropologi merupakan sebuah ilmu yang lahir dari rasa ingin tahu yang tak terbatas dari umat manusia.

Koentjaraningrat– Antropologi merupakan studi tentang umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat dan budaya yang dihasilkan.

William A. Haviland– Antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha untuk membuat generalisasi yang berguna tentang orang-orang dan perilaku mereka dan untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap dari keragaman manusia.

Rifhi Siddiq-Antropologi merupakan sebuah ilmu yang mendalami semua aspek yang terdapat pada manusia yang terdiri atas berbagai macam konsepsi kebudayaan, ilmu pengetahuan, norma, seni, linguistik dan lambang.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.  Ruang Lingkup  dan Perkembangan Antropologi

             3.1.1.Ruang Lingkup Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.

Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

            Ihromi (2006) berpendapat bahwa umumnya para ahli antropolgi sebagai penjelajah pelosok-pelosok dunia yang belum dikenal untuk mempelajari bangsa-bangsa yang asing sebagai orang yang menggali permukaan bumi untuk menemukan sisa-sisa fosil atau alat-alat periuk yang dipergunakan oleh manusia yang hidup pada suatu masa yang demikian jauh jaraknya dari saat ini sehingga mengaburkan khayalan manusia. 

Pandangan-pandangan tersebut walaupun jelas merupakan stereotip memang menjelaskan bahwa ilmu antropologi berbeda dari disiplin-disiplin lain tentang manusia, ilmu antropologi lebih luas ruang lingkupnya. Ilmu tersebut memang dimaksudkan sebagai ilmu yang khusus dan langsung menyoroti segala jenis manusia (tidak hanya bangsa tetangga saja) dan manusia pada segala jaman diperhatikan antropologi. Studi antropologi mulai dari manusia yang muncul lebih ari sejuta tahun yang lalu dan ditelusurinya perkembangannya hingga saat ini. 

Para ahli antropologi berusaha memperluas ilmu yang mendalami tentang manusia melalui pendekatan perbandingan  maupun pendekatan historis terhadap kebudayaan di seluruh dunia. Setiap bagian dari dunia yang pernah didiami oleh manusia menarik perhatian para ahli antropologi. 

Memang, para ahli antropologi pada saat yang lalu tidak demikian luas dan komprehensif dalam bidang perhatiannya, dibandingkan dengan jaman sekarang ini. Pendalaman mengenai peradaban negara-negara barat serta perhatian tentang masyarakat-masyarakat kompleks dengan sejarahnya yang sudah tercatat, diserahkan pada disiplin lain. Berlainan halnya pada waktu akhir-akhir ini, pembagian pekerjaan secara umum antara disiplin ilmu mulai lenyap. Sekarang dapat saja ditemukan ahli antropologi yang bekerja, baik di desa-desa yang primitif maupun di kota-kota industri.

Apa yang menjadi dorongan bagi ahli antropologi untuk memilih topik yang begitu luas untuk dipelajari? Sedangkan dari dorongan itu adalah perasaan bahwa suatu ucapan yang umum (generalisasi) tentang manusia  (jadi tentang kita sendiri) hendaknya dibuktikan dan dapat berlaku untuk umat manusia dariberbagai masa dan berbagai tempat. Dengan demikian dapat dihindarkan bahwa hal-hal tertentu mengenai manusia dianggap bersifat umum, sedangkan hanya berlaku untuk keadaan khusus. Misalnya, sebelum Margaret Mead memulai penelitian lapangannya yang terkenal tentang Samoa (yang kemudian dilaporkan dalam bukunya (Coming of Age In Samoa) pada tahun 1928, banyak orang Amerika beranggapan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh gelora dan tekanan (Sturm und drung) yang harus dialami manusia dan hal itu disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada masa pubertas. 

Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.

3.2. Definisi Antropologi menurut para ahli dan garis besarnya

1.William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

2.David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.

3.Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

      Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dengan, demikian antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.

            Untuk memahami ruang lingkup serta apa yang diharapkan dari ilmu antropologi, orang harus mengetahui tentang ilmu pengetahuan yang merupakan cabang-cabangmya sambil memperhatikan bagaimana hubungannya satu dengan yang lain. Antropologi dapat digolongkan secara luas dalam dua bagian yakni antropologi fisik dan antropologi budaya. Arkeologi dan linguistik dapat digolongkan sebagai cabang-cabang antropologi budaya, walaupun keduanya secara akademis berdiri sendiri sebagai ilmu. Suatu subdisiplin ketiga adalah etnologi yang mencakup demikian banyaknya soal sehingga dinamakan antropologi kebudayaan, yaitu nama disiplin induknya. (Ihromi, 2006).

Antropologi dapat dilihat dari perkembangan pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah- tengah masyarakat sekarang ini, adapun Antropologi secara garis besarnya :

1.Antropologi Fisik

         Antropologi fisik mempelajari manusia sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya dan menyelidiki variasi biologisnya dalam berbagai jenis (spesies). Contoh : Para antropologi umumnya memiliki anggapan bahwa nenek moyang manusia adalah sejenis kera dan monyet, karena memiliki kemiripan-kemiripan tertentu. Antropologi fisik dalam arti khusus adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba suatu pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Bahan penelitiannya adalah ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipe) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam bentuk (genotipe) seperti frekuensi golongan darah. Penggolongan manusia dalam antropologi disebut dengan ras. 

         a. Paleoantropologi

       Merupakan ilmu tentang asal-usul atau soal terjadinya evolusi makhluk hidup manusia dengan mempergunakan bahan penelitian melalui sisa-sisa tubuh yang telah membatu, atau fosil-fosil manusia dari zaman ke zaman yang tersimpan dalam lapisan bumi dan didapat dengan berbagai penggalian.

        b.Somatologi ( antropologi fisik dalam arti khusus)

       Merupakan bagian ilmu antropologi yang mempelajari suatu pengertian tenteng sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia jika dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, baik lahir (fenotipik), seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi badan dan bentuk tubuh maupun sifat bagian dalam (genotipik), seperti golongan darah dan sebagainya. Manusia dimuka bumi ini terdapat beberapa golongan berdasarkan persamaan mengenai beberapa ciri tubuh. Pengelompokkan seperti itu dalam ilmu antropologi disebut ras

         2.Antropologi Budaya

                  Antropologi Budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya dalam masyarakat. Menurut Haviland (1999:12) caban antropologi budaya ini dibagi-bagi lagi menjadi tiga bagian, yakni antropologi prehistori, etnolinguistik, dan etnologi. Untuk memahami pekerjaan para ahli antropologi budaya, kita harus tahu tentang hakikat kebudayaan, menyangkut konsep kebudayaan, dan karakteristiknya; bahasa dan komunikasi, menyangkut hakikat bahasa dan bahasa dalam kerangka kebudayaan; serta kebudayaan dan kepribadian. Antropologi budaya juga merupakan studi tentang praktik-praktik sosial,bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa, dimana makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan oleh masyarakat manusia.

                       a.Antropologi prehistori (prasejarah) atau arkeologi

       Merupakan ilmu tentang perkembangan dan penyebaran semua kebudayaan manusia sejak sebelum manusia mengenal tulisan atau huruf. Dalam ilmu sejarah, seluruh waktu dari perkembangan kebudayaan umat manusia mulai saat terjadinya mmakhluk manusia, yaitu kira-kira 800.000 tahunyang lalu hingga sekarang, dibagi menjadi dua bagian yakni masa sebelum mengenal tulisan atau huruf, dan masa setelah manusia mengenal tulisan atau huruf. Subilmu prehistori ini sering disebut ilmu arkeologi. Di sini ilmu arkeologi sebenarnya adalah sejarah kebudayaan dari zaman prehistori.

                         b.Etnolinguistik atau Antropologi Linguistik

                        Suatu ilmu yang berkaitan dengan ilmu antropologi dengan berbagai metode analisis kebudayaan yang berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini. Etnolinguistik atau antropologi linguistik adalah suatu ilmu bagian yang asal mulanya berkaitan dengan ilmu antropologi. Bahkan penelitiannya yang berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat dimuka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa. 

 Dari bahan ini telah berkembang ke berbagai macam metode analisis kebudayaan, serta berbagai metode untuk menganalisis dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Semua bahan dan metode tersebut sekarang telah terolah, juga ilmu linguistic umum. Walaupun demikian, ilmu etnolinguistik di berbagai pusat ilmiah di dunia masih tetap berkaitan erat dengan ilmu antropologi, bahkan merupakan bagian dari ilmu antropologi.

                       c.Etnologi

       Merupakan bagian ilmu antropologi tentang asas-asas manusia, mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari bangsa-bangsa tertentu yang tersebar di muka bumi pada masa sekarang.

3.3. Sejarah dan Perkembangan Antropologi

            Kelahiran Sejarah Antropologi , menurutKoentjoroningrat  (Meinarno, Widianto, dan Halida, 2011) menjelaskan bahwa fase penelitian mengenai antropologi atau penelitian kemasyarakatan melalui empat fase perkembangan. Fase-fase tersebut adalah fase sebelum tahun 1800, pertengahan abad ke – 19, awal abad 20, dan setelah tahun 1930.  Sebuah fase tambahan adalah fase globalisasi, sebuah fase yang mungkin merupakan upaya dari bangsa Indonesia menghadapi kemajuan saat ini. 

Kelahiran antropologi dan perkembangannya
12345
Sebelum tahun 1800Pertengahan abad ke 19Awal abad 20Sesudah tahun 1930globalisasi
Membuat deskripsiMempelajari masyarakat primitif untuk melihat tingkat-tingkat evolusi dan persebaran budayaMempelajari masyarakat non-eropa untuk kolonial dan memahami masyarakat yang kompleksMempelajari kebudayaan untuk kemajuanMempelajari kebudayaan lain di Indonesia untuk menghadapi globalisasi

Dikutip dari Meinarno, Widianto, dan Halida (2011)

Disiplin antropologi merupakan peradaban barat. Dari lembaga-lembaga antropologi etnografi, lahirlah Antropologi untuk pertama kali. Misalnya, lembaga Society Etnogiqui  (Paris) 1839 oleh M.Edwards,The Etnological Society (London) oleh T.Hodgokin (anti perbudakan .Tujuan lembaga tersebut sebagai pusat pengumpulan dan studi bahan etnografi yang berasal dari banyak kebudayaan di dunia.Dua puluh lima tahun kemudian (1874) di London diterbitkan buku Notes and Queries in Anthropologi yang dipergunakan untuk menyusun pedoman dalam pengumpulan etnografi secara teliti.

Etnografi (ilmu tentang bangsa-bangsa) resmi diakui dunia tahun 1884 dengan diadakannya mata kuliah  etnologi di universitas Oxford,inggris dengan E.B Tylor (ahli arkeologi  peradaban yunani dan romawi kuno) sebagai dosen pertama. Di amerika serikat,etnologi resmi diakuidengan dibukanya Department of archeology and ethnologi di uni vard tahun 1888.Dalam perkembamgannya ,lembaga etnologi di amerika terdesak dengan istilah antropologi sebagai ilmu tentang manusia dalam segala aspeknya,baik fisik maupun budayanya dari manusia dahulu sampai sekarang.

Lewis H Morgan  (1818-1881) adalah perintis dan pelopor yang paling berpengaruh dalam ilmu antropologi dengan karya terbesarnya yang berjudul Ancient Society (1877) yang melukiskan proses masyarakat dan kebudayaan melalui delapan tingkat evolusi kebudayaan yang universal   (zaman liar tua,zaman liar madya,zaman liar muda,zaman barbar tua,zaman barbar madya,zaman barbar muda,zaman peradaban baru,zaman perdaban masakini). Namun teori Morgan dikecam keras oleh antropolog inggris maupun amerika,sehingga tidak diakui dunia.sedangkan di uni soviet teori Morgan popular karena bersesuaian debgan ajaran Karl Marx dan F Engels mengenai evolusi masyarakat manusia  .

Yang diakui sebagai bapak antropologi adalah Franz Boas yaitu antropolog kelahiran jerman ahli geografi yang menulis buku The Centural Eskimo (1888). Boas pun telah meletakkan konsepsi dasar yang sampai sekarang dianut oleh hampir seluruh universitas di amerika serikat yaitu kesatuan dari semua ilmu tentang manusia dan kebudayaan,yaitu ilmu paleoantropologi, antropologi fisik, arkeologi prasejarah. Etnolinguistik, dan antropologi budaya yang menjadi sub ilmu antropologi. Boas mengatakan bahwa ada perbedaan antara pencatat dan pengumpul bahan di daerah dan ahli pikir yang menganalisis bahan,jadi ahli etnografi yaitu juru catat saja sedangkan sarjana etnologi mahir dalam teori-teori mengenai seluk beluk masyarakt dan kebudayaan manusia.

             Dalam antropologi terdapat 4 fase yang terjadi dalam perkembangan antropologi sebagai ilmu, yaitu:

1. Fase pertama

            Fase ini terjadi sebelum tahun 1800 atau abad 18, sekitar akhir abad 15 hingga awal abad 16 orang eropa mulai mengelilingi wilayah wilayah dikawasan Asia, Afrika dan Amerika, sejak saat dalam perkembanganya permukaan bumi ini mulai terkena pengaruh Negara-negara Eropa Barat. Dalam perkembanganya mulai terkumpul catatan, buah cerita laporan dan buku-buku kisah cerita dari para musafir, pelaut, pendeta penyiar agama dan pegawai pemerintah jajahan mengenai wilayah yang mereka datangi. Dalam buku-buku itu termuat mengenai deskripsi bangsa-bangsa yang terdapat di Afrika, Asia, Oseania dan suku-suku bangsa lainnya. Bahan-bahan deskripsi tersebut sangat menarik perhatian bangsa Eropa karena perbedaan dari wilayah yang dikunjungi dengan adat istiadat, bahasa, susunan masyarakat dan cirri-ciri fisik bangsa-bangsa Eropa Barat.

            Bahan-bahan pengetahuan tadi disebut etnografi, atau seskripsi tentang bangsa-bangsa. Deskripsai yang diperoleh tadi biasanya tidak begitu teliti sehingga seringkali bersifat kabur, dan kebanyakan hanya memperhatikan hal yang menurut orang Eropa nampak aneh saja, walau ada pula karangan-karangan yang baik dan bersifat lebih teliti.

            Dari keanehannya, maka bahan etnografi tadi amat menarik perhatian kaum terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke 18. Kemudian dalam pandangan orang Eropa munculah pertentyangan terhadap bangsa Amerika, Afrika Asia dan juga Oseania tadi, yaitu: sebagian orang eropa menganggap bahwa mereka keturunan iblis dan bukan bangsa yang merupakan keturunan manusia, adajuga yang menganggap mereka merupakan bangsa yang masih murni yang belum tersentuh olehkejahatan, dan yang terakhir sebagian orang Eropa tertarik akan adat-istiadat dan ulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan asal Amerika, Afrika, Oseania dan Asia sehingga muncul museum-museum kebudayaan luar Eropa.

            Pada awal abad ke-19 pehartian terhadap himpunan pengetahuan tentang masyarakat, adat istiadat dan cirri-ciri fisik bangsa-bangsa di luar Eropa dari pihak dunia ilmiah menjadi sangat besar, demikian besarnya sehingga timbul usaha-usaha pertama dari dunia ilmiah untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan pengetahuan etnografi tadi menjadi satu.

2. Fase Kedua

            Masa ini berlangsung pada pertengahan abad ke-19, pada masa ini mulai muncul tulisan-tulisan ataupun berupa karangan yang menyusun bahan etnhografi tersebut berdasarkan cara berikir evolusi masyarakat. Secara singkat kerangka berfikir tersebut bisa di golongkan seperti berikut: Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat dalam jangka beribu-ribu taun dengan berbagai tingkatan evolusi, dengan sebagai patokan tingkatan tertinggi adalah masyarakat yang hidup seperti masyarakat dii Eropa Barat. Bentuk masyarakat yang tinggal di luar Eropa disebut oleh mereka (orang Eropa) sebagai bangsa primitive, dianggap sebagai sisa-sisa kebudayaan terdahulu yang masih hidup hingga sekarang.berdasarkan kerangka berfikir tersebut maka pada tahun sekitar 1860 timbul beberapa karangan yang membandingkan tingkat kebudayaan dari masing-masing bangsa berdasar tingkat-tingkat evolusi, sehingga timbula ilmu antropologi.

3. Fase Ketiga

            Fase ini berlangsung pada permulaan abad ke-20. Pada permulaan abad ke-20, sebagian besar negara-negara penjajah di Eropa masing-masing berhasil untuk mencapai kemantapan kekuasaannya di daerah-daerah jajahan di luar eropa. Untuk keperluan daerah jajahan dimana pada waktu itu mulai berhadapan ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah luar eropa justru menjadi sangat penting. Sejak itu timbul pendirian bahwa mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa itu penting.

4. Fase Keempat

     Fase ini kira-kira sesudah 1930. Pada fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas. Hal ini termasuk bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali itu kita lihat adanya dua perubahan di dunia, yaitu timbulnya anti pati terhadap kolonialisme terhadap perang dunia II, serta cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa dan Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah perang dunia II memang hampir tak adalagi di muka bumi.

            Proses tersebut menyebabkan seolah-olah lapangan dalam ilmu antropologi telah hilang, sehingga memunculkan sebuah dorongan untuk memunculkan ide untuk mengembangkan lapangan penelitian dengan ide dan tujuan baru. Adapun bahan-bahan etnografi yang terdapat dalam fase pertama, kedua maupun yang ketiga tidak dibuang begitu saja melainkan dijadikan sebagai landasan bagi perkembangannya yang baru. Pengembangan itu terjadi di amerkia Serikat tetapi menjadi umum di negara-negara lain setelah tahun 1951, stelah 60 orang ahli antropologi dari berbagai negara Amerika dan Eropa, menajlin seuatu simposium internasional untuk meninjau dan merumuskan pokok tujuan ruang lingkup dari ilmu antropologi yang baru.

5.Fase kelima

            Perkembangan antropologi pada era 1970-an masih memperlihatkan perkembangan antropologi pada fase 4 di atas yang masih memfokuskan diri pada tujuan akademis dan tujuan praktisnya, tetapi penekanan terhadap kedua tujuan tersebut berbeda-beda di setiap negara. Perbedaan tersebut memungkinkan lahirnya perbedaan aliran dalam antropologi yang dapat diklasifikasikan berdasarkan asal universitas tempat dikembangkannya antropologi di suatu negara, seperti Inggris, Eropa Utara, Eropa Tengah, Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara berkembang. Di Inggris, antropologi diperlukan terutama untuk mengenal dan memahami kehidupan masyarakat lokal pada negara-negara jajahan Inggris, yang pada waktu itu sangat berguna bagi pemerintah setempat. Setelah negara-negara jajahan Inggris merdeka, seperti Papua New Guinea dan Kepulauan Melanesia, penelitian antropologi masih tetap dilakukan oleh para sarjana Antropologi Inggris dan para sarjana Antropologi dari negara masing-masing dalam upaya pembangunan masyarakat. Di Amerika Serikat, antropologi menunjukkan perkembangannya yang paling luas. Perkembangan antropologi di sini telah didukung oleh lahirnya berbagai himpunan antropologi dan terbitnya jurnal-jurnal serta majalah ilmiah antropologi.

3.4. Tujuan Belajar Dan Kegunaan Antropologi

          Sebagai ilmu tentang umat manusia, antropologi melalui pendekatan dan metode ilmiah berusaha menyusun sejumlah generalisasi yang bermakna tentang manusia dan perilakunya. Kedua bidang besar dari antropologi adalah antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organism biologis yang tekanannya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis dalam species manusia. Sedangkan antropologi budaya berusaha mempelajari manusia berdasarkan kebudayaannya. Dimana kebudayaan dapat merupakan peraturan-peraturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Koentjoroningrat (Meinarno, Widianto, dan Halida, 2011) berargumen bahwa studi antropologi memiliki dua tujuan penting, tujuan-tujuan besar tersebut adalah:

            3.4.1. Tujuan akademik.

            Tujuan akademisdari belajar antropologi adalah mencapai pengertian tentang manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakatnya, dan kebudayaannya. Berdasarkan hal ini, penelitian antropologi mulai digunakan oleh warga sendiri  yang melihat dirinya sendiri. Mirip dengan cara pandang ketika orang Eropa meliha mereka.  Penelitian dimulai dengan fisik, misalnya mengetahui beda organ tubuh tertentu dari tiap masyarakat. Selanjutnya bagaimana masyarakatnya yang pada akhirnya merujuk pada kebudayaannya (penelitian-penelitian lintas budaya, Hofstede tahun 1980).

            3.4.2. Tujuan praktis

            Tujuan praktisnyaadalah mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa tersebut (Koentjoroningrat dalam Meinarno, Widianto, dan Halida, 2011). Berangkat dari tujuan praktis ini, banyak kegiatan kemasyarakatan yang menggunakan dasar pikir antropologi sebagai acuan. Kegiatan-kegiatan pembangunan mulai mengacu pada kepentingan masyarakat, tidak semata dari arah pemerintah atau pihak luar yang membantu pembangunan masyarakat. 

                 Di antara ilmu-ilmu social, dan alamiah, antropologi memiliki kedudukan, tujuan, manfaat yang unik karena bertujuan dan bermanfaat dalam merumuskan penjelasan-penjelasan tentang perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya di semua masyarakat.

          Selain itu, antropologi bermaksud mempelajari umat manusia secara objektif, paling tidak mendekati objektif da sistematis. Seorang ahli antropologis dituntut harus mampu menggunakan metode-metode yang mungkin juga digunakan oleh para ilmuwan lain dengan mengembangkan hipotesis atau penjelasan yang dianggap benar, menggunakan data lain untuk mengujinya, dan akhirnya menemukan suatu teori, yaitu suatu system hipotesis yang telah teruji. Sedangkan data yang digunakan ahli antropologi dapat berupa data dari sutu masyarakat atau studi komparatif di antara sejumlah besar masyarakat.

3.5. Istilah – istilah lain Antropologi

            Sampai sekarang di beberapa Negara masih belum ada kesamaan istilah untuk menyebut Antropologi. Koentjaraningrat menjelaskan istilah – istilah lain untuk menyebut antropologi antara lain :

      a.Etnogaphy adalah penulisan yang melukiskan tentang bangsa – bangsa, terutama tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan suku – suku bangsa.

      b. Etnology bearti ilmu bangsa – bangsa. Sekarang menjadi bagian Antropologi yang mengkaji tentang sejarah perkembangan kebudayaan manusia.

      c.Volkerkunde bearti ilmu bangsa – bangsa yang berkembang di Eropa Tengah sampai sekarang.

      d.Kulturkunde bearti ilmu kebudayaan, pemakaiannya sama dengan ethnology, istilah ini pernah dipakai untuk menyebut antropologi di Jerman.

      e.Anthropology bearti ilmu tentang manusia, dan istilah yang sangat tua bearti ilmu yang mempelajari tentang ciri – ciri tubuh manusia.

      f.Cultural Anthropology dipergunakan di Amerika Latin dan di Negara – negara lain untuk menyebut bagian dari antropologi yang tidak mempelajari manusia dari segi fisiknya.

      g.Antropologi sosial adalah dipergunakan di Inggris dalam fase ketiga, sebagai lawan etnologi.

3.6. Hubungan Antropologi Dengan Ilmu- Ilmu Sosial Lainnya

            Haviland (1988: 11 ) menyatakan antropologi bukan satu – satunya disiplin ilmu yang mempelajari manusia. Antropologi mempunyai tujuan yang sama dengan ilmu sosial lainnya dalam mengkaji manusia dalam kehidupan masyarakat. Adanya perbedaan kesimpulan bagi masing – masing disiplin ilmu. Mereka amat berterima kasih atas saham dan sumbangan konsep – konsep dasar yang diberikan untuk memahami sifat – sifat kemanusiaan.

            Koentjaraningrat (1985: 26) menjelaskan adanya perbedaan pandangan disebabkan :

      a.Masing – masing disiplin ilmu itu mempunyai asal mula dan sejarah perkembangan yang berbeda.

      b.Asal mula sejarah yang berbeda menyebabkan adanya suatu perbedaan khusus antara pokok dan bahan penelitian dari kedua ilmu tersebut.

      c.Asal usul dan sejarah perkembangan ilmu yang berbeda juga telah menyebabkan berkembangya beberapa metode dan masalah yang khusus bagi masing – masing disiplin ilmu.

Hubungan antropologi dengan ilmu – ilmu lain sebagai berikut :

                     1.Hubungan Antropologi dengan Sosiologi

             Objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses- proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Dalam antropologi budaya mempelajari gambaran tentang perilaku manusia dan konteks sosial budayanya.

                     2.Hubungan Antropologi dengan Psikologi

Antropologi psikologi menguji saling terkaitan atau interaksi peran budaya dan  kepribadian berbagai masyarakat barat dan non barat. Topik antropologi psikologi meliputi persepsi, kognisi, mimpi, keadaan kesadaran yang berubah, pergeseran peran gender, dan terorisme psikologis yang dianalisis dalam perspektif lintas budaya. Antropologi psikologi adalah bagian dari dari ilmu antropologi  yang berkembang pesat di Amerika. Sehingga sudah menjadi suatu bidang ilmu sendiri 

Nama Antropologi psikologi  semula digagas oleh Antropolog Amerika, Francis L. K. Hsu.Sebelumnya dikenal dengan nama Culture and Personality (kebudayaan dan kepribadian), dan juga disebut sebagai Ethno Psychology (Psikologi suku bangsa).Ember dan Ember (1985) mendefinisikan antropologi psikologi sebagai studi yang dilakukan oleh para ahli antropologi yang tertarik pada perbedaan psikologis diantara dan didalam suatu masyarakat dan persamaan psikologis pada rentang yang luas pada masyrakat.

                 Psikologi pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia dan proses- proses mentalnya. Psikologi pun membahas faktor- faktor penyebab perilaku manusia secara internal, seperti motivasi, minat, sikap, konsep diri dan lain- lain. Sedangkan dalam antropologi khususnya antropologi budaya lebih bersifat faktor eksternal yaitu lingkungan fisik, lingkungan keluarga dan lingkungan sosial dalam arti luas. Kedua unsur itu salung berinterkai satu sama lain yang menghasilkan suatu kebudayaan melalui proses belajar. Denagn demikian keduanya memerlukan interaksi yang intens untuk memahami pola- pola budaya masyarakat terntentu secara bijak.

                     3.Hubungan Antropologi dengan Ilmu Sejarah

            Lebih menyerupai hubungan ilmu arkeologi dengan antropologi. Antropologi memberi bahan prehistori sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di dunia. Selain itu banyak persoalan dalam historiografi dari sejarah suatu bangsa dapat dipecahkan dengan metode antropologi. Konsep- konsep tentang kehdupan masyarakat yang dikembangkan oleh antropologi dan ilmu- ilmu sosial lainnya akan memberi pengertian banyak kepada seorang ahli sejarah untuk mengisi latar belakang dari peristiwa politik dalam sejarah yang menjadi objek penelitiannya. Demikian juga sebaliknya bagi para ahli antropologi jelas memerlukan sejarah terutama sekali sejarah dari suku- suku bangsa dalam daerah yang didatanginya.

                  4.Hubungan Antropologi dengan Ilmu Geografi

            Diantara berbagai macam bentuk hidup di bumi yang berupa flora dan fauna itu, terdapat sifatnya yang beraneka ragam di muka bumi ini. Disinilah antropologi berusaha menyalami keanekaragaman manusia jika dilihat dari ras, etnis maupun budayanya. Begitupun sebaliknya seorang sarjana antropologi sangat memerlukan ilmu geografi karena tidak sedikit masalah- masalah manusia baik fisik maupun kebudayaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan alamnya.

                  5.Hubungan Antropologi dengan Ilmu Ekonomi

              Kekuatan, proses dan hukum – hukum ekonomi yang berlaku dalam aktivitas kehidupan ekonominya sangat dipengaruhi system kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat. Seorang ahli ekonomi yang akan membangun perekonomiannya itu tentu akan memerlukan bahan komparatif mengenai misalnya sikap terhadap kerja, sikap terhadap kekayaan, system gotong royong dan sebagainya yang menyangkut bahan komparatif tentang berbagai unsur dari system kemasyarakatan. Untuk pengumpulan keterangan komparatif tersebut ilmu antropolgi memiliki manfaat yang tinggi bagi seorang ekonom.

                  6.Hubungan Antropologi dengan Ilmu Politik

                            Penting halnya jika seorang ahli ilmu politik harus meneliti ataupun menganalisis kekuatan- kekuatan politik di Negara- negara yang sedang berkembang agar dapat memahami latar belakang dan adat istiadat dari suatu suku bangsa tertentu maka metode analisis antropologi menjadi penting bagi seorang ahli ilmu politik untuk mendapat pengertian tentang tingkah laku dari partai politik yang ditelitinya.

BAB IV

PENUTUP

4.1. .Kesimpulan

            Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.  Di antara ilmu-ilmu sosial, dan alamiah, antropologi memiliki kedudukan, tujuan, manfaat yang unik karena bertujuan dan bermanfaat dalam merumuskan penjelasan-penjelasan tentang perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya di semua masyarakat. 

            Objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses- proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Dalam antropologi budaya mempelajari gambaran tentang perilaku manusia dan konteks sosial budayanya, dan dapat ditarik sebagai kesimpulan sebagai berikut :

     1.Antropologi berasal dari kata Yunani (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

     2.Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa

     3.Di antara ilmu-ilmu sosial, dan alamiah, antropologi memiliki kedudukan, tujuan, manfaat yang unik karena bertujuan dan bermanfaat dalam merumuskan penjelasan-penjelasan tentang perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya di semua masyarakat.

     4.Lewis H Morgan  (1818-1881) adalah perintis dan pelopor yang paling berpengaruh dalam ilmu antropologi dengan karya terbesarnya yang berjudul Ancient Society (1877) yang melukiskan proses masyarakat dan kebudayaan melalui delapan tingkat evolusi kebudayaan yang universal  .

     5.Objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses- proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Dalam antropologi budaya mempelajari gambaran tentang perilaku manusia dan konteks sosial budayanya.

4.2. Saran

            Bagi kita dan generasi akan datang sudah sepatutnya untuk memahami, memecahkan dan menelaah secara kritis dan rasional   tentang berbagai fenomena sosial budaya yang terjadi di Indonesia dan kepada para pembaca jika ingin lebih mengetahui tentang bahasan ini bisa membaca buku atau majalah-majalah yang memuat tentang Pembelajaran Antropologi Budaya. Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kelemahan dan kekurangan karena terbatasnya pengetahuan, kurangnya rujukan dan referensi yang saya peroleh hubungannya dengan makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi saya sebagai penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Harsojo. 1984. Pengantar Antropologi. Cetakan kelima. Jakarta:  Rineka Cipta

Ihromi,T.Q. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan obor Indonesia

Koentjaraningrat.2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Sapardi, 2004. Pengantar Antropologi. Jakarta : Seri Buku Teks

http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi_budaya