Contoh Makalah Teori-teori kebenaran Mata Kuliah Filsafat Ilmu 2020

Diposting pada

TEORI-TEORI KEBENARAN

Mata Kuliah : Filsafat Ilmu

Disusun oleh

Nama : __________________

UNIVERSITAS _______________________________

FAKULTAS _____________________________

PROGRAM STUDI _____________________

TAHUN AKADEMIK 2020/2021

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena dengan Rahmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Teori-Teori Kebenaran’’.

Saya selaku penulis dalam pembuatan makalah ini, menyadari betul bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, kami memohon dengan ikhlas kepada pembaca makalah ini untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah yang lebih baik.

Akhir kata, kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu yakni, Nama dosen_____________________, serta kepada segenap teman-teman dan Kelurga yang turut serta memberikan dukungan dan semangat kepada kami. Dan kami harapkan semoga makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

    Nama Kota, Tanggal-Bulan-Tahun

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………………………………………………………………………… 1

B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………………………. 1

C. Tujuan Penulisan ………………………………………………………………………………………… 1

D. Metode Penulisan ……………………………………………………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Kebenaran ………………………………………………………………………. 3

B. Teori Kebenaran dalam Perspektif Filasafat Ilmu ……………………………………. 4

BAB III PENUTUP

Kesimpulan …………………………………………………………………………………………………………………………. 8

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia pada dasarnya meiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu ini merupakan bentuk pencarian kebenaran. Karena rasa ingin tahu yang tinggi inilah yang menjadikan manusia dapat terus berkembang sampai sekarang, dan akan terus berkembang ke depannya.

Kebenaran dalam filsafat ilmu merupakan hal yang sentral. Karena ilmu pengetahuan secara umum bertujuan untuk mencapai kebenaran. Oleh karena itu, dalam makalah yang sederhana ini membahas secara padat tentang teori-teori kebenaran.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yakni:

1. Bagaimana pengertian teori kebenaran?

2. Bagaimana teori kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini, yakni untuk:

1. Mengetahui dan memahami pengertian teori kebenaran.

2. Mengetahui dan memahami teori-teori kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu.

D. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan dalam makalah ini adalah deskriptif analitis. Dilakukan melalui penelusuran kepustakaan. Sehingga memerlukan berbagai literatur untuk memberikan penjelasan yang lengkap. 3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Kebenaran

Teori merupakan rumusan yang dirangkai oleh ahli dalam bidang tertentu yang dapat dijadikan sebagai landasan. Menurut para ahli dalam buku Restorative Justice, teori menunjukkan suatu bangunan berpikir yang tersusun secara sistematis, rasional, empiris, dan simbolis1.

Kata benar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ―sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah, tidak berat sebelah; adil, lurus (hati), dapat dipercaya (cocok dengan keadaan sesungguhnya), dan sah”2. Dalam bahasa Inggris disebut dengan kata correct (benar, tepat, betul)3, right (kanan, hak, keadilan, dan kebenaran)4, true (benar; betul; sejati; sebenarnya; setia; sah)5. Valid (sah; syah; absah; sahih; benar)6, really (benar-benar; sungguh-sungguh)7. Demikian pengertian teori kebenaran. Pembahasan makalah ini menguraikan secara padat tentang teori-teori kebenaran dalam Filsafat Ilmu.

________________________

1Sabian Utsman, Restorative Justice; Hukum Masyarakat Nelayan Saka dalam Sistem Hukum Nasional (Hukum Penguasaan, Pemilikan, dan Konflik Saka), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 22.

2Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 130.

3John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2006), 148.

4Ibid., 486.

5Ibid., 605.

6Ibid., 626.

7Ibid., 468.  

B. Teori-Teori Kebenaran dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu sangat terkait dengan masalah kebenaran. Kebenaran selalu menjadi perbincangan. Karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Menurut Soetriono dan Rita Hanafie, bahwa kebenaran adalah persesuaian antara tahu dan objeknya. Karena obyek tahu itu banyak aspeknya dan sukar untuk mencakup seluruhnya maka sukar juga untuk mencapai keseluruhan kebenaran8.

Filsafat Ilmu mengkaji tentang hakikat ilmu (pengetahuan). Dewasa ini ilmu pengetahuan telah mengalami perkembangan yang signifikan. Terkait hal ini, Amsal Bakhtiar mengatakan:

“Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Karena itu, kegiatan berpikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu atau kriteria kebenaran. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda. Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Alam fisik pun memiliki perbedaan ukuran kebenaran bagi setiap jenis dan bidang pengetahuan9.”

Berdasarkan pendapat tersebut diketahui bahwa untuk mengukur kebenaran ilmu pengetahuan cukup luas. Karena masing-masing ilmu pengetahuan memiliki ukuran atau kriteria kebenarannya masing-masing. Sebagai ukuran kebenaran, dalam filsafat ilmu terdapat tiga teori kebenaran sebagai berikut:

1. Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of Truth)

___________________________

8Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat ilmu dan Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Andi Offset, 2007), 6.

9Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), 111  

Teori korespondensi adalah suatu teori yang berisi bahwa pernyataan adalah benar jika materi yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi dengan objeknya10.  Artinya, suatu kebenaran itu memiliki kesesuaian antara subjek dengan objek, antara pernyataan dengan kenyataan, antara teori dengan fakta.

Teori korespondensi ini merupakan teori kebenaran yang tertua. Umumnya dianut oleh paham realisme. Tokoh-tokohnya diantaranya Plato, Aristoteles, Moore, Ramsey. Dan selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-1970)11.

2. Teori Koherensi (The Coherence Theory of Truth)

Teori koherensi adalah suatu teori yang berisi bahwa suatu proposisi itu benar apabila mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada yang benar.12 Artinya suatu kebenaran itu berhubungan dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Teori ini juga disebut dengan teori konsisten. Maksudnya, kebenaran itu konsisten dengan kebenarannya. Soetriono mengatakan:

Semakin terdapat saling hubungan diantara ide-ide yang makin meluas maka akan menunjukkan kesahihan kebenaran yang semakin jelas pula. Dalam dunia pengadilan misalnya, semakin kuat saling hubungan antara seluruh kesaksian, maka semakin kuat pula adanya kebenaran itu13.

______________________________

10Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Penebar Swadaya, 2002, h. 57. Lihat juga Stefanus Supriyanto, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Prestasi pustaka Publisher, 2013), 91-92.

11Ibid.,113.

12Sudarsono, Ilmu Filsafat; Suatu Pengantar, (Jakarta: Rineke Cipta, 2001), 146.

13Soetriono, Filsafat, 16.  

Penulis berpendapat jika teori korespondensi dan teori koherensi digunakan keduanya maka suatu kebenaran akan menjadi jelas. Selain kebenaran itu faktual, kebenarannya juga sesuai dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Penganut teori ini merupakan para pemikir rasionalis. Di antaranya Spinoza, Hegel, dan Bradley (1846-1924)14.

3. Teori Pragmatisme (The Pragmatic Theory of Truth)

Teori pragmatisme memandang bahwa suatu proposisi memiliki nilai kebenaran apabila memiliki konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat15. Artinya sesuatu itu benar apabila sesuatu tersebut bermanfaat. Sebagai contoh William James dalam Louis O. Kattsoff mengatakan bahwa proposisi ―Tuhan ada‖ adalah benar bagi seseorang yang hidupnya mengalami perubahan karena percaya adanya Tuhan. Ini berarti bahwa proposisi-proposisi yang membantu kita mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman kita, adalah benar16.

Menurut hemat penulis, dengan teori ini akan dapat menimbulkan pengabaian kebenaran yang tidak memiliki konsekuensi yang bermanfaat. Karena hanya mengambil suatu kebenaran yang bermanfaat. Sementara boleh adi konsekuensi yang tidak memiliki manfaat juga merupakan suatu kebenaran.

­­­­­­­­­­____________________________

14Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 105.

15Sudarsono, Ilmu Filsafat, 146. Lihat juga Inu Kencana Syafiie, Pengantar Filsafat, (Bandung: Refika Aditama, 2010), 33.

16Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Terj. Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), 182.  

Teori ini dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Kemudian dikembangkan oleh kebanyakan ahli filsafat dari Amerika. Diantaranya William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead dan C. I. Lewis17.

Demikian beberapa teori tentang kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu. Penulis akan menutupnya dengan mendeskripsikan kebenaran ilmiah. Sebagaimana penulis kutip dalam buku filsafat Ilmu:

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dlalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah –yang pada hakikatnya berupa teori— melalui metedologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. …kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif… harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektifitasnya. Kebenaran benar-benar lepas dari keinginan subjek. …Ilmu-ilmu kelaman umunya menuntut kebenaran korespondensi, karena fakta-fakta objektif amat dituntut dalam pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement). Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu sosial, ilmu logika dan matematik. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan koherensi diantara proposisi-proposisi, sehingga bagi ilmu-ilmu itu mengikuti teori kebenran koherensi18.

Penulis sependapat dengan pernyataan di atas. Sebagai akademisi, tentunya kebenaran-kebenaran yang akan diperoleh haruslah berupa kebenaran ilmiah. yang mana kebenaran-kebenaran tersebut diperoleh melalui prosedur ilmiah yang akan menghasilkan kebenaran yang dapat dipertanggung-jawabkan. 8

____________________________________

17Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Gramedia, 1985), 57.

18Tim Dosen Filsafat Ilmu fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2007), 144.  

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Teori kebenaran adalah bangunan berpikir yang tersusun secara sistematis, rasional, empiris, dan simbolis tentang kebenaran.                                                      

2. Teori-teori kebenaran dalam perspektif filsafat ilmu di antaranya ada tiga: pertama, teori kebenaran korespondensi, adalah pernyataan adalah benar jika materi yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi dengan objeknya. Kedua, teori kebenaran koherensi, adalah suatu proposisi itu benar apabila mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada yang benar. Ketiga, teori kebenaran pragmatisme, adalah suatu proposisi memiliki nilai kebenaran apabila memiliki konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005.

Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2006.

Kattsoff, Louis O., Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004.

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat ilmu dan Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Andi Offset, 2007.

Sudarsono, Ilmu Filsafat; Suatu Pengantar, Jakarta: Rineke Cipta, 2001.

Supriyanto, Stefanus, Filsafat Ilmu, jakarta: Prestasi pustaka Publisher, 2013.

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Penebar Swadaya, 2002.

Suriasumantri, Jujun S., Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia, 1985.

Syafiie, Inu Kencana, Pengantar Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2010.

Tim Dosen Filsafat Ilmu fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2007.

Utsman, Sabian, Restorative Justice; Hukum Masyarakat Nelayan Saka dalam Sistem Hukum Nasional (Hukum Penguasaan, Pemilikan, dan Konflik Saka), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.